Mungkin ketika mendengar kata Ethiopia yang terlintas dipikiran kita adalah sebuah negara yang terpuruk karena dilanda bencana kekeringan dan kelaparan. Akan tetapi, negara ini ternyata memiliki banyak asset, khususnya dalam hal peradaban budaya dan pemandangan yang cukup indah bagi traveler yang hendak melakukan perjalanan disana.

Selain itu, terdapat juga situs-situs bersejarah, seperti kota tua (ancient city) yang digambarkan sebagai ‘Camelot of Africa’ dan kemudian ada bangunan-bangunan gereja yang telah berdiri sejak abad ke-12 dan kini oleh UNSESCO dijadikan sebagai keajaiban dunia yang ke-8. Unruk mengenal lebih dalam tentang negara yang satu ini, ikuti terus arikel di bawah ini.

Profil Negara Ethiopia

Ethiopia mempunyai salah satu sejarah terlengkap sebagai negara merdeka di benua tersebut. Ethiopia adalah sebuah negara yang terletak di benua Afrika, tepatnya di Afrika Timur. Ethiopia yang merupakan salah satu negara tertua di dunia ini tidak pernah dijajah oleh negara Eropa selama masa perebutan wilayah Afrika yang terjadi di antara tahun 1880 hingga tahun 1914. Namun setelah masa perebutan wilayah Afrika tersebut, Ethiopia pernah diduduki oleh Italia dalam waktu singkat yaitu pada tahun 1936 – 1941. Italia berhasil dikalahkan oleh pasukan Ethiopia dan Britania Raya (Inggris Raya) pada tahun 1941.

Ethiopia merupakan negara yang terkurung oleh daratan, dimana negara ini tidak memiliki wilayah laut dengan luas wilayahnya sebesar 1.104.300 km2. Secara astronomis, Ethiopia terletak di antara 3°LU – 15°LU dan 33°BT – 45°BT.

Batas-batas wilayah Ethiopia:

  • Utara: Eritrea dan Sudan
  • Selatan: Kenya
  • Barat: Sudan Selatan
  • Timur: Djibouti dan Somalia

Jumlah penduduk Ethiopia adalah sebanyak 105.350.020 jiwa. Ethiopia adalah negara dengan jumlah penduduk terbanyak kedua di benua Afrika setelah Nigeria. Sekitar 43,5% penduduk Ethiopia adalah pemeluk kepercayaan Ortodok Ethiopia dan agama Islam sekitar 33,9%. Etnis mayoritas Ethiopia adalah Oromo (34,4%), Amara (27%), Somali (6,2%) dan Tigray (6,1%). Bahasa resmi Ethiopia adalah bahasa Amharic (Bahasa resmi Nasional) dan tiga bahasa resmi negara bagian yaitu bahasa Oromo, bahasa Somali dan bahasa Tigrigna.

Sistem pemerintahan yang dianut oleh Etiopia adalah Republik Parlementer Federal. Dengan sistem pemerintahan ini, kepala negara Etiopia adalah seorang Presiden yang dipilih Majelis Parlemen setiap 6 tahun sekali. Sedangkan Kepala Pemerintahan Etiopia adalah Perdana Menteri ditunjuk oleh Partai Mayoritas setelah pemilihan legislatif. Ibukota negara yang memiliki nama lengkap Republik Demokratif Federal Etiopia ini adalah Addis Ababa.

Sebelum tahun 1996, Ethiopia dibagi menjadi tiga belas provinsi, banyak yang berasal dari daerah bersejarah. Bangsa ini sekarang memiliki sistem pemerintahan berjenjang yang terdiri dari pemerintah federal yang mengawasi negara-negara regional, zona, distrik (woreda), dan kebeles (“permukiman”) secara etnis.

Sejak tahun 1996, Ethiopia telah dibagi menjadi sembilan wilayah regional yang secara etnik dan politis otonom (kililoch, kilil singular) dan dua kota charter (astedader akababiwoch, akababi astular tunggal), yang terakhir adalah Addis Ababa dan Dire Dawa. Kililoch dibagi menjadi enam puluh delapan zona, dan selanjutnya menjadi 550 woredas dan beberapa woredas khusus.

Perkembangan Negara Ethiopia

Sejak tahun 2000, Ethiopia menjadi salah satu negara di Afrika dengan tingkat kemiskinan tertinggi di dunia. Seiring dengan kemiskinan, negara itu juga harus menanggung kelaparan dan busung lapar. Namun secara mengejutkan, World Bank menyebutkan bahwa dalam satu dekade Ethiopia telah mengalami kemajuan luar biasa dalam kesejahteraan. Bahkan menduduki peringkat ke-12 sebagai Negara Adidaya Pertanian dan Ketahanan Pangan menurut Food Sustainability Index (FSI) tepat satu tangga di bawah USA (urutan ke-11). Kemajuan ini telah didukung oleh pertumbuhan ekonomi yang kuat dan berkelanjutan rata-rata 10,9 persen per tahun.

Negara lain di Kawasan Afrika Sub-Sahara seperti Ghana yang diprediksi sebagai negara dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi tahun ini nyatanya hanya mencatat 6,4 persen, merosot dari semula 8,9 persen pada Oktober 2017. Sedangkan Nigeria, negara ekonomi terbesar di benua hitam, diperkirakan perekonomiannya hanya tumbuh 2,1 persen, meningkat dari perkiraan 1,9 persen pada Oktober 2017 lalu.

Cepatnya pertumbuhan ekonomi di Ethiopia turut berdampak pada penurunan kemiskinan. Meski belum bisa menekan ke titik terendah, data dari Bank Dunia menunjukkan adanya penurunan pada 2011 dengan hanya 30 persen penduduk Ethiopia yang hidup di garis kemiskinan dari semula 44 persen pada 2000.

Di masa lalu, dengan penduduk terpadat kedua di benua Afrika, Ethiopia pernah masuk dalam negara termiskin ketiga di dunia pada tahun 2000. Waktu itu, Produk Domestik Bruto (PDB) per kapitanya hanya sekitar 650 dolar. Lebih dari 50 persen penduduk hidup di bawah garis kemiskinan global, tingkat kemiskinan tertinggi di dunia. Ditambah peristiwa bencana kelaparan dan kekeringan yang kerap melanda Ethiopia karena faktor cuaca membuat kondisi rakyat semakin memburuk.

Bencana kelaparan tahun 1983-85 misalnya, menjadi peristiwa kelaparan paling brutal di Ethiopia yang menewaskan sekitar 400.000 penduduk. Ada beberapa faktor yang memengaruhi pertumbuhan ekonomi Ethiopia sejauh ini. Seperti pemulihan berkelanjutan saat bencana melanda, ekspansi ekonomi karena disokong berbagai fasilitas dan infrastruktur baru dan lain sebagainya.

Bloomberg menyebut pertumbuhan ekonomi Ethiopia tahun ini sudah melampaui Cina yang hanya diproyeksikan 6,5 persen. Menyebut Cina dalam konteks ekonomi memang beralasan. Cina dalam beberapa tahun belakangan ini memang banyak terlibat dalam geliat perekonomian di negara tersebut.

Ian Taylor, ahli ekonomi politik Afrika dari University of St. Andrew mengtakan, Pemerintah Ethiopia melihat China sebagai model pembangunan dan menghendaki pembangunan infrastruktur dengan negara tersebut. Dalam dua dekade, China melengkapi Addis dengan jalan lingkar seharga 86 juta dollar AS, persimpangan seharga 12,7 juta dollar, jalan raya 6 lajur pertama seharga 800 juta dollar AS, dan jalur kereta api Ethio-Djibouti senilai 4 miliar dollar AS.

China juga membangun sistem kereta bawah tanah pertama di kota ini. Jalur kereta ini melintasi pusat kota dan mampu membawa 30.000 penumpang per jam. Addis Abbaba telah berubah cepat. Percepatan pembangunan di kota ini, menurut Taylor, mirip seperti yang pernah terjadi di kota-kota China pada awal abad ke-21.

Ethiopia tampaknya akan terus memfokuskan kebijakan ekonominya pada pengembangan infrastruktur baru dengan belanja infrastruktur senilai $89 juta, menurut African Development Bank (AfDB). Tidak semua pembangunan infrastruktur bergantung pada dana asing, khususnya Cina.

Pembangunan bendungan Grand Renaissance di Ethiopia yang dianggap paling ambisius sedaratan Afrika menjadi salah satu contoh proyek karya anak bangsa sendiri. Pembangunan bendungan tersebut mengerahkan 8.500 tenaga buruh. Dari bendungan tersebut, diharapkan mampu mengeluarkan tenaga listrik sekitar 6.000 megawatt yang diperuntukkan untuk pemakaian domestik dan ekspor. Termasuk bertujuan untuk menggerakkan industrialisasi.

Proyek bendungan besar itu sepenuhnya didanai oleh Ethiopia sendiri. Menurut pihak berwenang, 20 persen proyek dibiayai obligasi, sisanya dari pajak negara.

Tak hanya di bidang infrastruktur, hubungan antara Ethiopia dan China juga terlihat dari kucuran dana yang diterima. Sejak tahun 2000, kreditur China telah memberikan sejumlah dana sebesar 12,1 miliar dollar AS. Secara keseluruhan, jumlah utang negara ini mencapai 29 miliar dollar AS. Jumlah ini sebenarnya bukan hanya berasal dari China, negara ini lebih banyak berutang ke Timur Tengah dan International Monetary Fund (IMF). Hal yang sama juga terjadi di negara-negara Afrika lainnya. Sebuah laporan dari John Hopkins SAIS China-Africa Research Initiative menyebutkan, pinjaman China saat ini bukan menjadi penyumbang utama kesulitan utang di Afrika.

Fakta Unik Negara Ethiopia

Seperti yang dijelaskan di atas, Ethiopia sekarang ini bukanlah seperti yang dulu lagi. Sekarang ini merupakan masa dimana negara ini sedang bertumbuh dan berkembang. Ethiopia merupakan negara pertemuan antara budaya Afrika dan budaya Semitik yang perpaduannya menghasilkan budaya baru yang berbeda. Dibawah ini merupakan fakta yang belum kita ketahui tentang Ethiopia, negara yang sudah ada sejak 3000 tahun lalu.

  • Negara tertua di Dunia

Pemerintahan Etiopia pertama dibentuk sekitar tahun 980 SM, yang berarti umurnya udah hamper 3000 tahun.

  • Tidak punya hari kemerdekaan

Negara dengan nama ibu kota Addis Ababa ini adalah satu dari sedikit negara di dunia yang tidak memiliki hari kemerdekaan. Sejarah negara Ethiopia telah dimulai sejak berdirinya kerajaan kuno D’mt pada masa 10-5 SM di wilayah yang sekarang terletak di bagian utara wilayah teritorial Ethiopia, hingga akhirnya saat ini berbentuk Republik Demokratik Federal Ethiopia.

Pada periode tahun 1936-1941, Italia pernah menginvasi Ethiopia. Namun, Italia tidak pernah benar-benar bisa menancapkan kukunya dan menjadikan Ethiopia sebagai koloni. Walaupun demikian, cita rasa Italia sangat terasa di Addis Ababa, karena anda akan dengan mudah menemukan restoran atau warung makan yang menjual pizza dan spaghetti.

  • Kalender Ethiopia punya sistem 13 Bulan dengan sistem waktu 12 Jam.

Kalender ethiopia punya jumlah hari dalam setahun adalah 12 bulan 30 hari. Orang Etiopia juga mengikuti sistem jam yang sangat berbeda. Mereka mengikuti jam 12 jam yang bertentangan dengan sistem waktu 24 jam yang diikuti oleh seluruh dunia.

  • Punya diaspora dalam jumlah besar di berbagai negara

Saat ini, diperkirakan terdapat kurang lebih 2 juta orang diaspora asal Ethiopia bertempat tinggal di Amerika Serikat, Kanada, Inggris, negara-negara di Eropa daratan, dan timur tengah. Berdasarkan keterangan dari Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Ethiopia, remitansi dari para diaspora Ethiopa pada tahun 2017 lalu telah mencapai angka USD 4,6 miliar.
Salah seorang diaspora Ethiopia yang terkenal adalah penyanyi Abel Tesfaye, atau yang lebih dikenal dengan nama panggung The Weeknd. Tesfaye lahir dan besar di Kanada tapi ia masih bisa berbicara dan mengerti Bahasa Amharic.

  • Ada 9 Etnis besar disana

Menurut sensus 2007 Ethiopia, yang terbesar pertama adalah bahasa: Oromo 24.929.567 penutur atau 33,8% dari total populasi; Amharic 21.631.370 atau 29,33% (bahasa resminya); Somalia 4.609.274 atau 6,25%; Tigrinya 4.324.476 atau 5,86%; Sidamo 4.981.471 atau 5,84%; Wolaytta 1.627.784 atau 2,21%; Gurage 1.481.783 atau 2,01%; dan Afar 1.281.278 atau 1,74%. Ke-9 etnis besar ini yang menghuni sebagian besar Ethiopia sampai sekarang.

  • Ethiopia adalah rumah bagi danau paling asing di dunia

Jika berbicara air asin, tentu yang terlintas dipikiran kita adalah Laut Mati. Namun, faktanya ada danau yang jauh lebih asin daripada laut mati. Danau tersebut adalah danau Gaet’ale yang terletak di Afar, Ethiopia.

  • Ibukota Ethiopia artinya “Bunga Baru”

Addis Ababa (berarti “bunga baru”) adalah ibukota, pusat komersial, dan kota terbesar Ethiopia. Kota ini memiliki populasi mencapai lebih dari 3 juta orang. Didirikan pada tahun 1887, Addis Ababa adalah kota paling modern di negara ini. Namun, Addis Ababa dibangun secara serampangan dan merupakan campuran dari bangunan modern dan struktur kayu kecil. Pengungsi dari daerah pedesaan menyebabkan membengkaknya penduduk Addis Ababa.

Dari penjelasan di atas bisa kita simpulkan bahwa semiskin apapun suatu negara itu, jika memiliki tekan dan keinginan untuk berkembang semua itu pasti bisa terjadi. Contohnya adalah negara Ethopia tersebut, dimana negara yang satu ini merupakan negara yang terkenal akan kemiskinannya karena banyaknya korban akibat busung lapar.  Akan tetapi, negara ini bisa bangkin dari keterpurukan tersebut. Semoga artikel di atas bermanfaat dan bisa menambah wawasan bagi Anda ya. See you next time.