Burundi merupakan sebuah negara tanpa laut di daerah Danau Besar di tengah benua Afrika. Negara ini berbatasan dengan Rwanda di utara, Tanzania di selatan dan timur serta Republik Demokratik Kongo di barat. Meskipun negara ini tidak mempunyai batas laut, banyak dari perbatasan baratnya bersebelahan dengan Danau Tanganyika. Nama negara ini berasal dari bahasa Bantu, Kirundi. Negara ini sangat miskin. Dibanding Indonesia, pendapatan perkapitanya 400 kali lebih kecil daripada Indonesia.

Sejak merdeka pada tahun 1962 hingga pemilu pada tahun 1993, Burundi dikuasai serangkaian diktator militer, seluruhnya dari kelompok suku minoritas Tutsi. Periode tersebut dipenuhi kerusuhan etnis termasuk kejadian-kejadian besar pada tahun 1964, 1972 dan akhir 1980-an. Pada tahun 1993, Burundi mengadakan pemilu demokratis pertamanya, yang dimenangi Front untuk Demokrasi di Burundi (FRODEBU) yang didominasi suku Hutu.

Pemimpin FRODEBU Melchior Ndadaye menjadi presiden Hutu Burundi pertama, namun beberapa bulan kemudian dia dibunuh sekelompok tentara Tutsi. Pembunuhan ini lalu mengakibatkan terjadinya perang saudara. Sampai saat ini, perang saudara di negara ini masih terjadi dan semakin meluas.

Kekacauan besar sedang terjadi, namun dunia Internasional belum melakukan usaha maksimal untuk membantu mereka. Warga Burundi merasa ditinggalkan dan tidak dipedulikan lagi. Dan berikut fakta-fakta miris tentang negara Burundi yang tidak diketahui warga Internasional!

1. Negara Dengan Titel Termiskin di Dunia

PBB sudah merilis daftar terbaru negara-negara paling bahagia di dunia. Dalam daftar teratas, negara Denmark di peringkat pertama dan seperti yang sudah kamu ketahui, Burundi terpuruk di peringkat paling buncit alias paling bawah. PBB tentu tidak ngawur dalam menyusun daftar ini kecuali pada kenyataannya Burundi memang sangat kacau.

Tak hanya mempunyai gelar negara paling tidak bahagia, Burundi nyatanya juga masuk ke dalam tiga besar negara paling miskin di dunia bersama Kongo dan Republik Afrika Tengah. Dari data yang disusun IMF, rata-rata pendapatan per kapita Burundi hanya $818. Sangat jauh kalau dibandingkan dengan Indonesia yang mencatatkan angka $11.126. Dan makin jauh pula dengan Qatar yang memiliki pendapatan per kapita sebesar $132.009.

2. Terjadi Genosida Atau Pembunuhan Massal Ketika Presiden Ingin Mencalonkan Untuk yang Ke-3 Kalinya

Krisis Burundi bermula pada bulan April 2015 ketika Presiden Pierre Nkurunziza mencoba untuk mencalonkan lagi sebagai presiden untuk yang ketiga kalinya. Langkah ini jelas melanggar konstitusi Burundi yang mengatakan bahwa presiden hanya bisa menjabat 2 kali 5 tahun. Namun protes penolakan ini ditanggapi pemerintah dengan pembunuhan berdarah dingin. Upaya kudeta muncul, tapi gagal. Maka selanjutnya yang terjadi adalah kekerasan politik pemerintah yang mengarah kepada pembunuhan etnis tertentu yang ingin melengserkannya.

Warga disiksa, diserang, diculik, dibunuh bahkan yang wanita diperkosa di rumah mereka sendiri. Laporan soal pelanggaran hak asasi manusia termasuk pembunuhan, penyiksaan dan larangan berbicara terus bergulir. Namun kelihatannya kengerian tersebut belum akan berakhir dalam waktu dekat ini. Pemerintah menyebarkan propaganda etnis yang membuat konflik politik ini menjadi meluas ke arah etnis. Kebanyakan korban dari pembunuhan ini adalah orang-orang muda dari etnis Tutsi.

3. Banyak Warga Mengungsi Namun Kekurangan Bantuan

Lebih dari 100 orang berusaha keluar dari Burundi setiap harinya. Bahkan setidaknya 250 ribu lebih warga Burundi telah mengungsi ke beberapa negara tetangga seperti Tanzania, Rwanda, Uganda, dan Kongo pada akhir tahun 2015 lalu. Namun, melarikan diri dari negara konflik bukan berarti mereka selamat dari kejamnya kehidupan. Kenyataannya, kehidupan mereka sebagai pengungsi juga masih sangat miris dan membutuhkan bantuan.

Perkemahan warga penuh sesak dengan jumlah pengungsi yang terus bertambah tiap harinya. Mereka kekurangan makanan, pakaian dan kebutuhan lainnya karena bantuan yang datang ternyata sangat terbatas. Masalah lain kini menghantui mereka seperti penyakit mematikan yang mengancam nyawa di perkemahan pengungsi. Kelompok relawan kemanusian mengatakan tidak bisa memberikan bantuan dana, sumbangan pangan atau tempat tinggal bagi korban kekerasan di Burundi.

4. Penyakit Kolera Menyebar Diantara Para Pengungsi

Masalah lain yang juga menghantui adalah penyakit yang bisa menyerang kapan saja. Bahkan wabah kolera telah menyebar diantara pengungsi Burundi di Tanzania. Setidaknya 3 ribu orang tertular penyakit ini. PBB dan African Union sebenarnya sudah mengambil langkah untuk melakukan intervensi.

African Union berusaha mengirimkan pasukan untuk menjaga kedamaian tapi ditolak keras oleh presiden Burundi saat ini. PBB juga telah melakukan dialog dengan presiden Burundi agar menerima usaha African Union, namun tidak membuahkan hasil. Sayangnya, sejak saat itu masih belum ada langkah lainnya. Dan para pengungsi Burundi merasa mereka telah dilupakan oleh dunia.

5. Reaksi Dunia Akan Kekejaman di Burundi

21 Januari 2016 lalu, perwakilan dari PBB mengunjungi presiden untuk kedua kalinya dalam setahun. Tujuannya adalah untuk meminta presiden melakukan dialog dengan para pemberontak dan menerima pasukan perdamaian dari African Union. Sayang kunjungan tersebut tidak berhasil seperti yang diharapkan. Sampai saat ini, belum ada satupun negara yang membantu krisis yang di alami Burundi.

Nah, melihat kehidupan orang-orang Burundi ini, kita mungkin harus benar-benar sangat bersyukur karena lahir dan tinggal di Indonesia. Semoga bermanfaat dan terima kasih.