Pernahkah anda melihat seorang gembala yang sedang menggembalakan domba atau kambing? Atau pernahkah anda melihat sesorang yang menggiring hewan ternaknya ke padang hijau untuk makan? Kalau anda tinggal di kota, mungkin akan sulit atau bahkan tidak akan pernah melihat hal tersebut. Tapi jika anda tinggal di pedesaan, pemandangan ini pasti akan anda lihat setiap harinya.

Para gembala yang hendak menggiring hewan peliharaannya ke padang hijau untuk makan, misalnya saja hewan ternaknya itu adalah sapi, kerbau, kambing, atau domba, biasanya gembala tersebut akan membawa sebuah alat seperti lidi, cambuk atau semacamnya. Sesampainya di padang hijau, hewan ternak tersebut akan dibiarkan untuk makan dan si penggembala akan mengawasi dan menjaga hewan – hewan tersebut.

Tujuan pengawasan yang dilakukan oleh si gembala tersebut tidak hanya untuk mencegah hewan ternaknya lari atau dimangsa hewan buas seperti serigala dan yang lainnya, tapi juga menjaga agar hewan – hewannya tersebut tidak dicuri oleh para pemburu dan pencuri ternak. Kebiasaan ini dilakukan oleh para gembala yang ada di seluruh dunia. Hal ini juga dilakukan oleh salah satu suku di Afrika yang bernama Suku Mundari. Pernahkah anda mendengar tentang suku ini sebelumnya?

Suku Mundari adalah suku yang hidup di Sudan Selatan, Afrika. Mayoritas Suku Mundari adalah peternak. Hewan yang mereka ternakkan adalah sapi atau lembu. Sama seperti suku – suku lainnya yang ada di Afrika, suku ini juga sangat unik. Tidak hanya dari segi kebiasaan hidupnya, tapi juga dari cara beternak dan menjaga ternak – ternaknya.

Jika biasanya para gembala menjaga sapinya dengan cambuk, beda halnya dengan yang dilakukan oleh suku Sudan Selatan di Afrika yang bernama Mundari ini. Cambuk tidaklah berarti apa – apa untuk mereka. Kalau tidak menggunakan cambuk, lantas apakah yang dipakai oleh suku ini? Mungkin pertanyaan itu yang tengah terlintas di dalam benak anda, bukan?

Untuk menjaga sapi – sapinya, suku mundari menggunakan senapan lho, sob. Bayangin aja coba. Yang digunakan itu adalah senapan sungguhan. Wah, mengerikan sekali bukan? Tidak tanggung – tanggung, senapan yang mereka gunakan adalah senapan serbu AK-47. Gak kebayang deh kalau bertemu dengan gembala dari suku mundari ini ketika sedang menggembala. Rasanya pasti gimana gitu. Benar nggak?

Tapi anda tidak perlu khawatir. Jika memang anda tidak berniat yang macam – macam pada suku itu dan juga pada ternaknya, mereka tidak akan menyakiti anda. Mereka memiliki alasan tertentu mengapa sampai harus menggunakan senjata pada saat menjaga sapi mereka. Tadinya, mereka tidak menggunakan senapan lho, sob.

Karena mayoritas suku mundari ini adalah peternak sapi, sudah bisa diambil kesimpulan bahwa sapi merupakan salah satu barang paling berharga yang mereka miliki. Sapi – sapi yang mereka ternakkan ini mewakili kekayaan dan status penduduk suku mundari. Sapi tersebut digunakan baik sebagai mata uang, warisan keluarga dan juga digunakan sebagai mas kawin.

Sapi yang dipelihara oleh suku ini tidaklah sama dengan sapi – sapi yang biasa anda lihat dan temukan. Sapi yang mereka ternakkan disebut dengan Ankole-Watusi. Ankole-Watusi adalah sapi putih dengan tanduk khas yang melengkung, juga dikenal sebagai “sapi dari raja-raja”.

Dari pengertian namanya saja, anda bisa melihat betapa berharganya hewan ini bagi mereka. Suku Mundari ini bahkan menggunakan air seni sapi untuk mandi setiap pagi. Kotorannya juga digunakan sebagai lotion atau bedak dari kotoran sapi yang dicampur dengan abu kemudian dibakar. Tidak hanya itu saja, mereka juga mengkonsumsi dan mengolah sejumlah makanan dari susu sapi untuk bisa bertahan hidup.

Akan tetapi, sebagai negara yang baru merdeka pada tahun 2011 yang lalu, kondisi Sudan Selatan memang masih belum stabil. Kondisi negara yang masih labil seperti itu turut mempengaruhi kehidupan suku – suku yang tinggal di Sudan Selatan, yang salah satu kehidupannya adalah dengan beternak sapi.

Yang memprihatinkan dari kehidupan suku mundari ini adalah banyaknya ternak sapi milik mereka yang menjadi incaran para maling. Setiap tahunnnya di Sudan Selatan, ada sekitar 350.000 ekor sapi atau lembu yang dicuri dan lebih dari 2.500 orang tewas akibat pencurian tersebut.

Rentannya pencurian sapi yang terjadi tersebut dikarenakan suku mundari ini memiliki cara beternak yang kurang baik. Cara berternak sapi mereka bukan di dalam kandang, tapi digembalakan di tempat terbuka seperti kawasan hijau di sepanjang pinggiran Sungai Nil.

Selain itu, sapi – sapi yang dimiliki oleh Suku Mundari ini merupakan sapi yang luar biasa, mengingat ukurannya yang besar dan memiliki tanduk yang sangat panjang. Maka tidak mengherankan jika sapi – sapi milik Suku Mundari ini mendapat julukan sebagai “rajanya para sapi” dan banyak diincar oleh para pencuri.

Sebagai suku yang masih menjalani kehidupan tradisional dan agar selalu bisa bersama para sapi istimewanya itu, Suku Mundari kerap tinggal di semak-semak di dekat mereka menggembalakan sapi – sapinya tersebut. Maka jangan heran jika mereka menolak tinggal di perkotaan karena tidak mau terpisah dari sapi-sapinya itu.

Karena rentannya terhadap pencurian inilah, banyak anggota suku mundari yang rela mengeluarkan uang sekitar Rp. 6,6 juta untuk membeli senapan. Senapan serbu AK-47 ini akan selalu mereka pegang demi menjaga sapi kesayangan mereka. Jadi mereka bisa menggertak bahkan menembak siapa saja yang berani mencuri sapi – sapi mereka.

Walaupun cara yang suku mundari ini kelihatannya sangat berlebihan untuk kebanyakan orang, namun tidak bisa dipungkiri bahwa apa yang mereka lakukan hanyalah demi menjaga harta atau barang mereka yang paling istimewa. Lagian mereka tidak akan melakukan hal ini jika para pencuri tersebut mencuri ternak mereka. Benar nggak?