Pasar Afrika Selatan cukup menggiurkan bagi Indonesia. Selain masih terbuka peluang untuk menerima produk Indonesia, Afrika Selatan juga jadi pintu ke negara-negara tetangganya. Hanya saja, masalah tarif masih menjadi kendala Untuk meningkatkan perdagangan dengan negara asal mendiang Nelson Mandela itu, pekan ini Kementerian Perdagangan memfasilitasi 18 pengusaha dalam negeri dari berbagai sektor unggulan untuk bertemu dan memperkenalkan produk-produknya ke pengusaha Afrika Selatan.

“Para pelaku usaha datang dari Indonesia untuk mendapatkan informasi dan mendalami peluang bisnis, serta mendapatkan kesepakatan bisnis dengan rekanan di Afrika Selatan,” kata Dirjen Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan Arlinda, Kamis waktu setempat, seperti dikutip oleh Antara. Pada pertemuan itu, pengusaha Indonesia diperkenalkan pada kurang lebih sebanyak 150 pengusaha Afrika Selatan.

Sejauh ini, produk Indonesia yang diminati Afrika Selatan antara lain kelapa sawit, karet, produk otomotif, bahan kimia, sepatu dan kakao. Sementara, produk Afrika Selatan yang masuk ke Indonesia adalah bubuk kayu, aluminium, buah-buahan dan tembaga. Tercatat, total perdagangan kedua negara pada 2016 mencapai lebih dari satu miliar dolar Amerika Serikat. Dari total nilai perdagangan tersebut, nilai ekspor mencapai US$727,8 juta dan impor senilai US$290,8 juta, sehingga Indonesia mengantongi surplus sebesar US$437 juta.

Pasar Afrika Selatan merupakan salah satu target dan tujuan utama ekspor Indonesia yang diharapkan meningkat ke depannya,” kata Arlinda.

Duta Besar Indonesia untuk Afrika Selatan Suprapto Martosetomo mengatakan kunjungan pelaku usaha itu meningkatkan potensi perdagangan kedua negara. Menurutnya, Afrika Selatan memiliki posisi strategis yakni negara besar yang memiliki pengaruh di kawasan Afrika, termasuk dalam berbisnis. Tak heran jika Afrika Selatan bisa menjadi pintu masuk produk-produk Indonesia, khususnya negara-negara kawasan Afrika yang tergabug alam Southern African Custom Union (SACU). Negara anggota SACU adalah Botswana, Lesotho, Namibia, Swaziland dan Afrika Selatan.

Indonesia melihat Afrika Selatan sebagai pusat investasi, perdagangan dan juga pintu gerbang untuk mengakses pasar Afrika. Khususnya, untuk membuka kerja sama perdagangan dengan negara anggota SACU,” kata Arlinda.

Dibebani Tarif Tinggi

Sayangnya, hubungan perdagangan Indonesia dan Afrika Selatan masih terkendala pengenaan tarif impor yang tinggi. Afrika Selatan mengenakan tarif bea masuk impor sebesar 20-40%. Tingginya tarif ini menyebabkan daya saing produk Indonesia berkurang. Berdasarkan pengamatan KBRI Pretoria, Afrika Selatan adalah salah satu tarif impor Afrika yang cukup tinggi adalah untuk produk furnitur sebesar 20%, sementara produk garmen anak mencapai 40-50%. Diharapkan, jika disepakati kedua belah pihak, opsi penurunan tarif tersebut bisa mendongkrak ekspor Indonesia.

Saya yakin, penurunan tarif menjadi salah satu aspek yang dapat meningkatkan nilai perdagangan antara Indonesia dan Afrika Selatan. Demikian pula dengan negara-negara anggota SACU,” ujar Arlinda.

Sementara itu, Suprapto mengatakan jika produk-produk Indonesia mampu masuk dan bersaing di Afrika Selatan, maka produk tersebut akan bisa diterima oleh negara lain yang masuk dalam jalur distribusi Afrika Selatan.

Saya lihat, produk-produk yang ada di negara tetangga itu berasal dari Afrika Selatan. Pengaruhnya yang luar biasa ke negara tetangga, ini yang kita katakan sebagai pintu masuk bagi produk Indonesia,” kata Suprapto.

Pemerintah pun berencana membuka opsi dan mendalami adanya kemungkinan untuk menyepakati Preferential Trade Agreement (PTA) guna menyelesaikan masalah tersebut, baik dengan Afrika Selatan maupun juga dengan negara-negara anggota SACU. PTA ini diharapkan dapat mendorong perdagangan yang seimbang dengan negara-negara di Afrika. Sejauh ini, kajian komprehensif PTA telah disiapkan pemerintah. Melalui kajian ini pemerintah dapat menetapkan hal-hal yang masuk dalam daftar penawaran dan daftar permintaan yang dituangkan dalam PTA.

Pameran Produk Terbesar Indonesia

Dalam kesempatan itu, Arlinda juga mengundang pengusaha Afrika Selatan untuk mengunjungi pameran produk Indonesia terbesar Trade Expo Indonesia (TEI) ke-32 yang akan diselenggarakan pada 11-15 Oktober 2017 mendatang. Ia mengatakan pada 2016, tercatat kurang lebih ada 35 pengusaha asal Afrika Selatan menyambangi TEI. Total nilai transaksi yang dihasilkan mencapai US$27 juta.

Kami harap pada tahun ini akan lebih banyak lagi pengusaha asal Afrika Selatan yang datang pada TEI 2017, ini merupakan pameran bisnis terbesar di Indonesia,” kata Arlinda.

Tercatat, hingga hari terakhir penyelenggaraan TEI 2016 total nilai transaksi yang dihasilkan mencapai US$974,76 juta atau setara dengan Rp12,7 triliun. Sementara pada 2017, total transaksi ditargetkan mencapai US$1,1 miliar. TEI 2017 yang akan memamerkan 300 produk dan jasa ini akan diselenggarakan di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Tangerang, Banten. Adapun tema yang akan diusung adalah Global Partner for Sustainable Resources.

Target pengunjung dan pembeli potensial pada perhelatan dagang ini mencapai 16.000 orang dan 1.100 peserta pameran. Para peserta atau eksibitor merupakan produsen, eksportir, serta pemasok produk dan jasa Indonesia yang berkeinginan memperluas pasar mereka ke luar negeri. Pemerintah pada 2017 menargetkan peningkatan ekspor nonmigas sebesar sebesar 5,6% meskipun kondisi perekonomian global dinilai masih cenderung melambat. Target tersebut lebih rendah dari yang tertuang dalam Rencana Pemerintah Jangka Menengah (RPJM) pada 2017 tercatat sebesar 11,9%.

Salah satu upaya untuk meningkatkan ekspor nonmigas tersebut dengan berupaya menembus pasar-pasar baru seperti India, Rusia, negara-negara Afrika dan Timur Tengah. Sementara untuk pasar tradisional akan tetap dipertahankan. Secara kumulatif berdasar data Badan Pusat Statistik, nilai ekspor Indonesia pada periode Januari-Juni 2017 mencapai US$79,96 miliar atau meningkat 14,03 persen dibanding periode yang sama tahun 2016. Pada periode itu, ekspor nonmigas mencapai US$72,36 miliar atau meningkat 13,73 persen.