Whoonga (juga dikenal sebagai nyaope atau wunga) adalah obat-obatan terlarang yang diduga beredar luas di Afrika Selatan sejak tahun 2010 lalu, kebanyakan di kota-kota miskin seperti di Durban, meskipun diklaim sudah banyak muncul di kota lain di Afrika Selatan.  Obat tersebut dikatakan mengandung obat antiretroviral (ARV) khususnya efavirenz dari jenis yang diresepkan untuk mengobati HIV, namun analisis sampel tidak menunjukkan kandungan tersebut, dan polisi telah mengatakan bahwa pembuat Whoonga diketahui menambahkan “segala macam racun” untuk memproduksinya secara massal.

Whoonga digunakan sebagai obat penenang, reaksi Whoonga sendiri menghasilkan perasaan euforia yang intens dan berlebihan, kepuasan mendalam dan relaksasi diri. Penggunaan Whoonga ini juga mengurangi nafsu makan berhari-hari. Efek whoonga bisa berlangsung dua sampai empat jam setelah mengkonsumsinya. Obat ini biasanya diisap dengan campuran ganja dalam bentuk linting, namun beberapa bentuk seperti cairan juga diperkiran sudah beredar.

Whoonga terkenal karena diduga mengandung obat anti-retroviral atau ARV yang diresepkan untuk penyakit HIV, namun bahan bakunya belum dapat dipastikan dan banyak opini bahwa obat tersebut mengandung obat HIV yang selama ini rentan dicuri komplotan geng jalanan Durban, Afrika Selatan.

Namun, ahli menyebutkan bahwa Whoonga mengandung obat psikoaktif klasik seperti ganja, methamphetamine atau heroin dan diperkuat oleh campuran ritonavir anti-retroviral. Dan obat tersebut mengandung efavirenz (sendiri atau dengan bahan yang disebutkan di atas), antiretroviral lain yang memiliki efek samping psikoaktif yang sangat kuat.

Ahli HIV mengatakan bahwa campuran obat anti-retroviral tidak mungkin menyebabkan pengguna menjadi gila dalam mengkonsumsinya. Analisis laboratorium terhadap sampel Whoonga gagal mendeteksi obat anti-retroviral dalam komposisinya, dan seorang ahli medis yang telah menganalisis kandungan obat tersebut telah menyimpulkan bahwa obat tersebut tidak mengandung obat anti-retroviral HIV.

Menurut beberapa ahli dari Dinas Kepolisian Afrika Selatan dan pusat rehabilitasi narkoba, Whoonga pada dasarnya hanyalah sebuah racikan obat-obatan berbasis heroin dan sedikit campuran racun tikus dan deterjen pembersih. 

Namun menurut sumber, obat anti-retroviral itu menjadi sasaran pencurian para penjahat yang mencampurnya dengan bubuk deterjen serta racun tikus untuk membuat Whoonga, jenis narkoba yang tersedia di jalanan.

Para pemakainya berpendapat bahwa campuran ganja dan obat anti-retroviral bisa meningkatkan efek halusinasi, walaupun tidak ada bukti ilmiah yang mendukung anggapan itu. Penggunaan obat anti-retroviral di Whoonga akan memperkecil sumber-sumber daya kami yang terbatas dalam pengobatan HIV di Afrika. Obat itu merupakan tulang punggung bagi pasien dan obat itulah yang digunakan untuk mengobati para pengidap HIV di Afrika.

Harga Whoonga sendiri dilaporkan sekitar 30 Rand atau sekitar Rp. 30rb per Oktober 2016 sekali sedotan. Laporan menunjukkan bahwa pecandu Whoonga memerlukan beberapa sedotan sehari, namun karena kebanyakan pengguna biasanya orang-orang miskin maka untuk mecukupi kebutuhan terhadap Whoonga sangatlah sulit. Karenanya, pengguna Whoonga beralih membuat kriminal untuk mengumpulkan uang agar mencukupi kebutuhan dosis mereka terhadap Whoonga. 

Ada laporan yang mengklaim bahwa pecandu Whoonga berusaha menyamar menjadi pengidap HIV, karena obat anti-retroviral akan diberi kepada pasien HIV secara gratis oleh Departemen Kesehatan Afsel.

Whoonga mudah dibeli karena banyak pecandu menggunakan ganja sebagai campuran untuk membakarnya, sehingga umumnya pengedar ganja juga menjualnya.

Laporan tentang adanya kasus perampokan dan pencurian terhadap pasien HIV dan klinik yang menyediakan ARV (obat anti-retroviral) datang dari provinsi KwaZulu-Natal, Afrika Selatan. Meski demikian, pemerintah setempat berjanji akan memperketat peredaran ARV dan meningkatkan persediaannya.

ARV merupakan golongan obat-obatan yang digunakan untuk menjaga agar kadar CD4 (cluster of differenciation 4) tidak terus menurun. CD4 sendiri merupakan komponen pertahanan tubuh yang kadarnya menurun pada infeksi HIV, sehingga tubuh rentan terhadap infeksi oportunis atau penyerta seperti TBC dan pneumonia.

Obat ini tidak menyembuhkan, namun dengan penggunaan secara teratur bisa memperpanjang harapan hidup penderita HIV sehingga bisa hidup normal. Dari berbagai jenis ARV yang tersedia, pasien HIV umumnya mendapatkan dalam bentuk kombinasi yang isinya disesuaikan dengan kondisi daya tahan tubuhnya.

Sementara itu, Afrika Selatan termasuk negara dengan populasi penderita HIV paling tinggi di dunia. Pada tahun 2007, di negara itu tercatat sekitar 5,7 juta warga yang terinfeksi HIV positif dengan korban tewas mencapai 250.000 orang.

Efek negatif dari penggunaan Whoonga ini adalah pengguna akan mengalami pelambatan sistem saraf di otak, kekacauan saat berbicara, kerusakan hampir di seluruh organ tubuh, resiko terkena HIV, penyakit infeksi pernapasan dan juga kejang-kejang karena efek dari campuran racun tikus dan deterjen yang ada di Whoonga tersebut serta mengalami kematian akibat over dosis.